RASA MEMILIKI HANYA AKAN MEMBUATMU SAKIT HATI

Kehilangan seseorang yang disayang tentunya menyisakan luka yang mendalam. Apalagi orang tersebut berpindah hati pada orang lain karena ketidak mampuan dalam memberikan kenyamanan. Rasa memiliki atau sense belonging adalah rasa yang melahirkan sifat mencintai, menjaga, melindungi, dan berkorban demi hal yang dicintai. Rasa memiliki itulah sumber dari pada rasa sakit, stress, pusing, galau, dll. Ketika rasa memiliki itu semakin bertambah, maka akan bertambah sulit pula untuk melepaskan, takut kehilangan, dan menimbulkan keterpurukan.

 

Oleh karena itu Allah mengajarkan kepada kita apabila kehilangan sesuatu atau tertimpa musibah dihadapi dengan sabar dan mengucapkan innalillahi wainna ilaihi rajiun. Kita mesti sadar bahwa semua hal yang ada pada diri kita, Bersama kita, semuanya hanyalah titipan dari Allah yang sewaktu-waktu akan diminta untuk kembali pada sang pemilik yaitu Allah SWT, baik itu harta, teman sahabat, bahkan orang yang paling dicintai seperti keluarga.

 

Tetapi kembalinya titipan yang kita cintai itu, bukan berarti sama sekali tidak boleh menitiskan air mata, karena Rasulullah pun menangis saat ditinggalkan oleh istrinya Khadijah RA.

 

 Kisah hijrahnya Rasulullah dan para sahabat menjadi pelajaran bagi kita Mereka meninggalkan segala sesuatu yang mereka miliki di Makkah, Rasulullah kemudian memanjatkan doa kepada Allah agar diberikan kekuatan Ketika meninggalkan Makkah.

 

Dalam proses berhijrah, Allah tidak semata-mata membiarkan orang yang berniat baik begitu saja, melainkan Allah akan menguji orang tersebut untuk mengukur sejauh mana keteguhannya “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji?’  (Qs. Al;ankabut :20). Allah menguji hamba-hambanya yang beriman sesuai dengan tingkat keimanan mereka.

 

Ketika Allah timpakan rasa sakit dengan kehilangannya sesuatu yang kita sayangi, sejatinya Allah sedang menegur kita agar kembali bersimpuh dihadapannya, serta agar menyadari akan kedigjayaan dzatnya dan kelemahan kita selaku hambanya. Dalam prosesnya memang kehilangan membawa luka yang cukup dalam, namun, yang mesti kita yakini bahwa Allah telah menyiapkan hal yang lebih baik dari pada titipan yang diambilnya.

 

Kembali ke kisah Hijrahnya Nabi, setelah kurang lebih 10 tahun, dibalik semua cobaan itu, Allah mengembalikan yang lebih kepada Rasulullah dan para sahabatnya Ketika fathul Makkah.jadi Ketika apa yang dimiliki disandarkan pada diri sendiri, maka menjadi sakitlah hatinya. Tetapi jika yang dimiliki seseorang disandarkan hanya kepada Allah maka menjadi indahlah akhirnya. Hilang sakitnya. Wallahu alam.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik Untuk dosen dalam menjalankan profesinya

INTRODUCE MY SELF

ADAB