PATAH HATI ??


Jika mendengar kalimat ini, yang terbesit biasanya adalah tentang cinta yang kandas, tentang cinta yang sampai disini saja, tentang perpisahan, air mata yang berlinang, sakit hati dan semua hal yang seakan menyebabkan kehidupan semakin terpuruk.

Pepatah mengatakan“Lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati”

Tetapi mengapa kita seakan mempersempit makna patah hati hanya berkaitan dengan air mata kesedihan saja? padahal sejatinya patah hatipun mengantarkan hikmah yang besar untuk dipelajari dan direnungkan.

Seharusnya kita bersyukur masih diberikan rasa ini oleh Allah, artinya kita masih memiliki hati bukan? dan bukan sekedar hati saja, akan tetapi hati yang sensitif, yang lembut, yang mampu merasa bahagia juga luka.

Selain itu, air matapun dapat membersihkan kelopak mata yang kusam menjadi jernih kembali, karena air mata membersihkan kotoran yang ada dimata.

 Menagislah! Tapi bukan untuk cinta yang kandas, akan tetapi menangis karena mencintai Allah saat kita sedang sendiri, karena air mata ini lebih bernilai daripada menagisinya, yang bahkan ia tidak pernah peduli dengan tangisanmu.

 

“fabiayyi ala irobbikuma tukadziban”

Maka nikmat mana lagi yang akan kau dustakan? bahkan dalam linangan air mata, Allah senantiasa memberikan kasih sayangnya.

Coba renungkan, sebelum patah hati menghampirimu, mendengar suaranya diujung telepon seakan lebih indah dari suara adzan menggema, pesan Whatsapp darinya, lebih sering kita buka dan dibaca berulang-ulang demi memahami isinya.

Tetapi tanya diri sendiri, seberapa sering kita membaca surat cinta dari Allah yang tersurat didalam Al-Quran?

 

Dan kini sudah tak lagi ada notif darinya, tak lagi ada suara manjanya diujung telepon, mungkin hikmah dibalik rasa sakit ini adalah Allah ingin mengembalikan kita kepada cinta yang seharusnya, yaitu cinta kepadanya.

 

Adakah rasa cinta yang lebih indah dari cinta kepada pemberi kehidupan ini?

Sejatinya dengan patah hati yang dialami, Allah ingin menyelamatkan kita dari cinta yang salah. Yang menyebabkan kita memuja, mencinta, serta memuji melebihi puja dan puji kepada Allah.

Nudzubillahimindzalik.

Pada dasarnya rasa cinta tidaklah salah, bahkan ia adalah anugrah yang indah, yang salah adalah cara kita menyikapinya

 

“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”

Ingatlah bahwa Allah adalah Dzat yang maha membolak-balikan hati dan keadaan.

Jika saat ini Allah menganugerahkan rasa cinta kepadamu, janganlah memperbudak diri dengan cinta, dengan memujanya seolah-olah dunia hanya milik berdua, jumlah pesan WhatsApp lebih dari jumlah rakaat sholat, jumlah log pangilan lebih banyak dari halaman Al quran yang dibaca, sampai duduk berduaan lebih nyaman dibanding dengan duduk tafakkur diatas sajadah dan bermesraan dengan Allah.

 

Sekali lagi, kita mesti banyak bersyukur karena dengan patah hati yang dirasakan, justru Allah menunjukan bahwa ia lebih mencintai kita daripada dia.

Terbukti bahwa Allah mengembalikan kita kembali dalam nikmat, limpahan kasih sayang dari kekasih hati yang sejati dan abadi, yaitu Allah SWT.

Kebahagiaan benar-benar akan menghampiri saat Allah kau jadikan cinta sejati. Damai, indah, tenang, dan tentram rasanya kehidupan ini.

 

WALLAHU ALAM


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik Untuk dosen dalam menjalankan profesinya

INTRODUCE MY SELF

ADAB