ANTARA CITA-CITA DAN REALITA TAKDIR
Saat kecil dulu, seringkali kita ditanya baik oleh guru, atau siapapun yang menjadi orang terdekat, "dek Cita-citamu apa.?" Lalu jawaban yang diberikan pun beragam, ada yang menjawab dengan menyebut profesi tertentu, terkadang malah kita kebingungan untuk menjawab apa.
Setelah dewasa, Cita-cita dan harapan yang pernah dulu kita dambakan ternyata berjumpa dengan realita. Sebagian ada yang terwujud, sebagian lainnya kandas, atau diantara kita mungkin saat ini masih mengejar keras, untuk menggapai cita cita itu.
Sejatinya Cita-cita selalu berkaitan dengan keinginan kita. Dan, terkadang apa yang menjadi realita tidak selalu berjalan mulus sesuai harapan.
4 tahun lalu di pondok tercinta, aku dan teman-teman asyik bercengkrama membahas cita-cita, kami kagum terhadap sosok ustadz dengan kelimuan nya yang luar biasa, baik secara intelektual, maupun spiritual, kami pun setuju dengan tujuan dan cita-cita yang sama, ingin melanjutkan pendidikan di almamater dimana ustadz tersebut belajar. Yaitu di baldatul auliya.
Kamipun membuat kelompok belajar, dengan tujuan untuk saling support dan saling mengingatkan, kami belajar bersama siang malam, menghafal dikeheningan malam, kemudian berdoa bersama untuk kelancaran dan kesuksesan tujuan bersama.
Bulan berlalu, tahun berjalan, kelompok yang beranggotakan 9 orang ini mesti berpisah demi menggapai cita-cita dan menjalani takdir masing-masing. 5 orang melanjutkan pendidikannya di baldatul Aulia, satu orang di negeri Jiran, dan 1 orang di negeri kinanah .
Ada hal yang saat itu kufikir sangat tidak adil, aku merasa bahwa usahaku tak kurang dari teman-temanku, namun hanya karena masalah materi yang lemah aku tak bisa wujudkan cita-cita dan harapanku.
Aku pun merenung, aku harus merevisi cita-cita fikirku saat itu, aku bertekad melanjutkan pendidikan adalah sebuah keharusan, namun terkadang tekad itu terusik oleh kondisi ekonomi yang tidak mumpuni.
Kata pepatah "jika keinginan dibarengi usaha yang kuat, maka jalan pun akan terbentang luas". Sejak saat itu, kuputuskan bahwa semua kebutuhanku, bukan lagi tanggung jawab orang tua. Aku pun mencari berbagai cara untuk bisa menggapai harapan.
Sampai saat ini benang merah dari semua liku kehidupanku mulai sedikit terurai,
Aku merasa dididik oleh kehidupan agar bisa lebih dewasa, dan nyatanya aku mampu melewati semua ini dengan izinnya saat inipun tekadku untuk tetap belajar bisa berjalan. banyak hal yang ternyata Allah siapkan di balik kegagalan yang pernah kita alami,
Jalaludin arrumi berkata :
عندما تدرك مقاصد القدر لن تتوقف بالإبتسام
"Andai saja engkau tau tujuan dari pada takdir-takdirnya, maka engkau tidak akan pernah berhenti untuk ternsenyum".
Saat usaha dan doa telah dimaksimalkan, namun impian belum juga terwujud, yang perlu kita lakukan, hanyalah bersabar menunggu takdir yang lebih indah, yang sedang disiapkan oleh yang maha indah.
Terus berusaha, berdoa dan pantang menyerah, selalu berhusnudzon padanya, dan tersenyumlah untuk menyambut surprise dari sutradara kehidupanmu.
والله أعلم
Komentar
Posting Komentar